Istimewa: Dr. Zulfikri Anas (Tengah), merupakan Dosen FKIP Universitas Terbuka.
Bukittinggi, MataJurnalist.com_ Tiga Narasumber dalam kegiatan Workshop yang di selenggarakan di SMA 2 Bukittinggi oleh MDN-G, pada Sabtu (11/7/2026), salah satu adalah Dr. Zulfikri Anas merupakan Dosen FKIP Universitas Terbuka yang juga pernah menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek periode 2021–Mei 2024.
Kegiatan diikuti oleh para guru dan tenaga pendidik sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas pembelajaran yang mendorong lahirnya peserta didik yang kritis, reflektif, dan berkarakter.
Dalam pemaparannya, Dr. Zulfikri menegaskan bahwa filosofi Minangkabau memiliki kekuatan besar dalam membangun karakter dan kecakapan berpikir peserta didik. Menurutnya, pendidikan di Ranah Minang sejak dahulu telah bertumpu pada nilai-nilai kearifan lokal yang mendorong kemampuan berpikir mendalam.
"Pelatihan ini bertujuan mengembangkan kecanggihan berpikir. Kecanggihan berpikir merupakan salah satu keunggulan masyarakat Minangkabau. Artinya, kita perlu mengembalikan pendidikan kepada nilai-nilai kearifan lokal yang telah dimiliki masyarakat Minang sejak lama," ujarnya.
Masyarakat Minangkabau memiliki tradisi berpikir yang tidak hanya melihat sebuah peristiwa secara kasat mata, tetapi juga berusaha menemukan makna dan hakikat di balik setiap kejadian, ucapnya saat di wawancara usai kegiatan di Bukittinggi.
"Orang Minang terbiasa berpikir kritis, analitis, berdasarkan fakta dan data, kemudian menarik kesimpulan serta menghubungkan satu fenomena dengan fenomena lainnya. Kemampuan inilah yang harus terus dikembangkan di dunia pendidikan," katanya.
Menurutnya, falsafah Minangkabau juga mengajarkan optimisme dalam menghadapi setiap persoalan. Hal itu tercermin dalam pepatah Minang, "Indak ado kusuik nan ndak kasalasai, indak ado karuah nan ndak kajaniah," yang berarti tidak ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan karena jalan keluarnya selalu ada, katanya.
Dr. Zulfikri juga mengulas makna pepatah "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung." Menurutnya, ungkapan tersebut bukan sekadar mengajarkan kemampuan beradaptasi, melainkan kemampuan membaca tanda-tanda kehidupan dan mengambil hikmah dari lingkungan tempat seseorang berada.
"Di mana pun kita berada, ada petunjuk-petunjuk yang dapat kita pelajari. Dengan kemampuan membaca situasi itulah kita mampu mengolahnya menjadi kekuatan," jelasnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya filosofi Tungku Tigo Sajarangan yang menggambarkan sinergi antara alim ulama, cadiak pandai, dan bundo kanduang. Ketiga unsur tersebut, menurutnya, memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun kehidupan masyarakat, termasuk dalam dunia pendidikan.
Nilai kebersamaan juga tercermin dalam pepatah "Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat." Filosofi tersebut mengajarkan pentingnya musyawarah, keseimbangan, dan saling menghargai dalam mengambil keputusan.
Dalam proses pembelajaran di kelas, Dr. Zulfikri mengingatkan bahwa setiap peserta didik memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda. Karena itu, guru perlu menghadirkan pengalaman belajar yang nyata, kontekstual, dan mendorong siswa aktif berdiskusi, berkolaborasi, menganalisis persoalan, hingga mampu menarik kesimpulan secara mandiri.
Foto : Dr. Zulfikri Anas, saat di wawancarai awak media di salah satu Hotel di Bukittinggi pada Sabtu (11/7/2026)"Jangan khawatir jika kompetensi akademik peserta didik terlihat rendah. Yang sering terjadi bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena kemampuan akademik dan berpikir kritis itu belum dikembangkan. Selama ini banyak siswa hanya terbiasa berpikir berdasarkan perintah, bukan melalui proses eksplorasi dan analisis," ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, Dr. Zulfikri juga memberikan apresiasi kepada penyelenggara workshop, MDNG, yang dinilai telah menghadirkan kegiatan penguatan kapasitas kepala sekolah melalui pendekatan yang berakar pada nilai-nilai budaya lokal.
Diakhiri waqancara dengan awak media Zulfikri mengatakan, filosofi pendidikan Minangkabau mengajarkan keyakinan bahwa setiap persoalan kehidupan sesungguhnya memiliki solusi yang terdapat pada diri manusia itu sendiri. Nilai tersebut menjadi bekal yang membuat masyarakat Minangkabau memiliki keberanian merantau dan menghadapi berbagai tantangan.
"Allah tidak akan memberikan persoalan kepada seseorang di luar batas kemampuannya. Karena itu, setiap tantangan harus dihadapi dengan ikhtiar, ilmu pengetahuan, dan keyakinan bahwa solusi selalu ada," pungkasnya.***
Pewarta : sutan mudo



Komentar0