GUO9GpGoBSrpBUW9TSG0TUApTA==

Menakar Peran Mahasiswa Mendorong UMKM di Era Digital

Ariqa Luthfiya, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.

Bukittinggi MataJurnalist.com_Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Data Kementerian Koperasi dan UKM 2024 mencatat jumlah UMKM mencapai lebih dari 65 juta unit atau sekitar 99 persen dari total pelaku usaha. UMKM juga menyerap lebih dari 119 juta tenaga kerja. 

Meski demikian, UMKM masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan modal, rendahnya literasi digital, hingga daya saing produk.
Dalam konteks ini, mahasiswa ekonomi memiliki peran strategis. Mereka tidak hanya dibekali teori di bangku kuliah, tetapi juga pemahaman tentang bagaimana ekonomi bekerja di masyarakat. 

Peran itu bisa diwujudkan dalam bentuk advokasi, pendampingan, hingga edukasi publik, terutama melalui media sosial yang kini menjadi ruang baru perjuangan.

Media sosial adalah sarana efektif untuk memperkuat posisi UMKM di tengah gempuran pasar digital. Survei Bank Indonesia 2024 menunjukkan hanya sekitar 30 persen UMKM yang benar-benar memanfaatkan platform digital secara optimal, padahal transaksi e-commerce nasional sudah menembus Rp476 triliun. Di sinilah mahasiswa ekonomi bisa turun tangan mengajarkan pemasaran digital, literasi keuangan, sekaligus mempromosikan produk lokal.

Kiprah mahasiswa ekonomi di media sosial tidak sebatas mengunggah konten motivasi. Lebih jauh, mereka dapat menghadirkan edukasi praktis: cara mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR), strategi branding, hingga manajemen usaha sederhana. Dengan begitu, mahasiswa dapat menjadi penghubung antara literasi akademis dengan kebutuhan nyata pelaku UMKM.

Selain itu, mahasiswa juga bisa memperkuat gerakan konsumsi produk lokal. Kampanye #BanggaBuatanIndonesia misalnya, akan lebih berdampak jika dihidupkan lewat jejaring mahasiswa di berbagai daerah. Dukungan publik yang meluas akan memperkuat pasar domestik dan memberi nafas panjang bagi UMKM di tengah persaingan global.

Meski era digital memberi peluang, mahasiswa tetap perlu turun ke lapangan. Contohnya di Payakumbuh, sentra rendang yang terkenal masih menghadapi kendala pada perizinan, label halal, legalitas usaha, dan pengemasan. Kehadiran mahasiswa ekonomi bisa membantu memberikan solusi langsung, agar produk UMKM lokal bisa naik kelas dan bersaing di pasar lebih luas.

Mahasiswa juga dapat memainkan peran sebagai jembatan antara pelaku UMKM dengan pemerintah. Banyak program bantuan, subsidi, atau pelatihan yang belum terserap optimal karena kurangnya informasi. Dengan advokasi di media sosial dan pendampingan langsung, mahasiswa bisa memastikan kebijakan pro-UMKM benar-benar tepat sasaran.

Tantangan terbesar adalah konsistensi. Jangan sampai mahasiswa terjebak dalam aktivisme simbolik: sekadar membagikan poster atau tagar tanpa tindakan nyata. Keberhasilan perjuangan mahasiswa diukur dari sejauh mana mereka bisa membawa dampak konkret bagi pelaku UMKM, baik melalui literasi digital maupun aksi pendampingan.

Pada akhirnya, mahasiswa ekonomi di era digital ditantang untuk menjadikan ilmu mereka bermanfaat bagi rakyat. UMKM adalah denyut ekonomi bangsa, dan mahasiswa punya kewajiban moral untuk ikut mengawal. Dengan analisis tajam, kreativitas digital, dan aksi nyata, mahasiswa ekonomi bisa menjadi mitra strategis UMKM dalam menghadapi tantangan zaman.***

Penulis : Ariqa Luthfiya, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Kampus II Payakumbuh.

Komentar0

Type above and press Enter to search.