GUO9GpGoBSrpBUW9TSG0TUApTA==

Desember, Lahirnya Pemuda yang menolak Untuk Diam


Bukittinggi MataJurnalist.com_ Dalam sejarah panjang Indonesia, hanya sedikit tokoh yang mampu menjelma menjadi suara hati di generasi muda. Dari yang sedikit itu Soe Hok Gie adalah salah satunya. Bukan karena kekuasaan yang dimilikinya, bukan pula karena jabatan yang disandangnya, melainkan karena keberanian yang berdiri tegak, di saat yang lain lebih banyak memilih diam. 

Ia lahir bukan untuk tunduk, melainkan untuk bertanya, kenapa? Mengapa?.....Dan ada apa sebenarnya? Soe Hok Gie tumbuh bukan untuk menyesuaikan diri, melainkan untuk menggugat bangsa yang rela dikuasai oleh ketakutan dan kebohongan. Tulisan-tulisannya banyak yang mengkritik rezim Orde Baru, yang mana terkadang Ia menulis dalam keadaan tangan gemetar di tengah kelelahan. Lalu di sisi lain didalam pekikan orasinya, yang menggema di pelantaran kampus. Soe Hok Gie hidup dan tumbuh sebagai oposisi moral bagi zamannya. 

Soe Hok Gie lahir di Jakarta pada tanggal 17 Desember di tahun 1942, tepat di masa pendudukan militer Jepang atas Hindia Belanda, dan semasa hidupnya, itu merupakan peristiwa perpindahan dari Orde Baru dan Orde Lama. Dalam catatannya, Soe Hok Gie menulis "Sejarah tidak seharusnya menjadi alat kekuasaan, tetapi alat sebagai alat pembebasan." Lalu dalam tulisan lain Ia juga menjelaskan "Saya menulis bukan untuk menjadi terkenal, tetapi karena saya tidak tahan melihat kebohongan terus-menerus hidup di tengah kita. Kalau semua orang diam, maka kejahatan akan menjadi hal biasa."

Dalam pandangannya, mahasiswa harus menjadi nurani bangsa. Jika mereka bungkam, maka akan lahir generasi teknokrat yang miskin moral. Sehingga reformasi tanpa refleksi hanya akan menjadi daur ulang kekuasaan yang tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. 

Didalam Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie pernah menulis dengan nada getir, bahwasanya "revolusi telah selesai... saatnya mereka menata birokrasi, memperkaya diri, dan melupakan yang mati di jalanan." Ini ketika tumbangnya Orde Lama. Didalam tulisan Soe Hok Gie di Kompas pada tahun 1967 yang berjudul Menyongsong Masa Depan Tanpa Demokrasi, Soe Hok Gie menyatakan "Kita terjebak dalam lingkaran yang sama: satu kekuasaan jatuh, kekuasaan baru lahir, tapi wataknya tetap sama menindas, membungkam, dan mencurigai rakyat."

Kata Soe Hok Gie pada tanggal 20 Oktober 1968 ia menulis "Kadang-kadang saya merasa menjadi manusia satu-satunya yang berfikir ditengah keramaian yang tahu mana yang bertepuk tangan dan memaki." Dan juga "kita terlalu sering berbicara tentang revolusi atau pembangunan dari atas. Padahal rakyat hanya tau nasi, kerja, dan harga barang. Kita telah kehilangan empati."

Gie...Gie....Gie....di dalam hidupnya dia menyimpan ruang sunyi dalam hidupnya. Ruang itu adalah Alam, gunung-gunung yang tinggi, rimba yang sejuk, kabut yang dingin semuanya itu menjadi tempat perlindungan sekaligus pencarian makna baginya. Jika jalanan Jakarta memberi amarah dan kekacauan, maka Gunung-gunung di Indonesia memberikan ketenangan dan kejujuran. 

Dalam salah satu catatan hariannya ia menuliskan, "Ia tahu bahwa dunia ini absurd. Kita lahir, kita berjuang, dan kita mati. Semua itu dalam sunyi." Lalu kutipannya dari kata-kata Albert Camus "bahwa satu-satunya cara untuk membalas absurditas adalah dengan pemberontakan yang sadar."

Soe Hok Gie juga mengakui bahwa hidup tanpa makna tetap harus di jalani dengan integritas. Di dalam salah satu essai yang di tulisnya untuk surat kabar Kompas pada tahun 1968, Soe Hok Gie menyampaikan bahwa "Sejarah tidak selalu berpihak pada kebenaran, tapi pada mereka yang tetap bersuara, walau tahu akan kalah. Tapi hal ini membuktikan bahwa manusia masih mempunyai harga diri." Jadi, Hidup ini bukan soal kemenangan tapi soal keberanian untuk tetap jujur pada diri sendiri. 

Di salah satu catatan selanjutnya, yang mana setelah ia mendaki Gunung Slamet, Soe Hok Gie menulis "bahwa rasa cinta tanah air tidak muncul dari pidato atau propaganda tetapi dari embun yang menggantung di daun atau dari langkah-langkah kaki yang telah menempuh rimba." Jadi, baginya nasionalisme bukan ideologi kosong, tapi pengalaman nyata yang bersentuhan langsung dengan tanah, air dan langit Indonesia. Ia juga seorang pendiri Mapala di UI pada tahun 1964.

Soe Hok Gie seorang demonstran di dalam di ahkir periodenya yang terasa hanyalah sepi dan terasing itu. kita menemukan nada-nada kesepian, rasa frustrasi, bahkan keputusasaan di dalam perjuangannya. Sehingga dicatat tertanggal 26 Maret di tahun 1969, Soe Hok Gie menulis, "Mungkin dunia ini tidak bisa diubah, tapi saya ingin mati sebagai manusia bebas." Dan akhirnya Gunung menjadi bagian dari takdirnya. Pada bulan Desember di tahun 1969, Soe Hok Gie saat itu yang muda di jurusannya, memimpin pendakian ke Gunung Semeru yang dicintainya. 

Lalu didalam kumpulan tulisannya di buku berjudul Soe Hok-Gie sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta Alam Bangsanya. Di sana dituliskan bahwa Soe Hok Gie menghirup gas beracun yang keluar dari kawah Semeru. Sehingga mengakibatkan Soe Hok Gie, jatuh dan meninggal dunia pada tahun 16 Desember 1969. Di mana ini adalah sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27. 

Soe Hok Gie bukan hanya seseorang aktivis, tapi ia merupakan bentuk dari manusia utuh, yaitu bebas dalam berekspresi walaupun banyak hambatan, tekanan dll. Oleh karena itu, kita sebagai anak muda, dan bersama-sama saudara-saudara seperjuang sekalian, untuk selalu mengungkapkan kebenaran walaupun banyak ancaman yang mengintai. Dan diam sering kali menjadi pilihan paling aman dan itulah yang ditolak oleh Soe Hok Gie.

Penulis: M Zidan Pratama, Mahasiswa Program Studi Manajemen Haji dan Umrah, UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi.

Komentar0

Type above and press Enter to search.