GUO9GpGoBSrpBUW9TSG0TUApTA==

Peletakkan Batu Pertama Surau Al-Hidayah, ITBHAS Bukittinggi Perkuat Pendidikan Berkarakter dan Spiritual


Peletakan Batu Pertama Surau Al-Hidayah ITB HAS Bukittinggi pada Senin (11/5/2026) oleh Pewakaf Hj Asweti, serta di ikuti oleh Dewan Pembina Yayasan, Staff Ahli Walikota, Ka. Kemenag Kota Bukittinggi, dan Rektor ITBHS.

Bukittinggi MataJurnalist.com_Institut Teknologi dan Bisnis Haji Agus Salim (ITBHAS) Bukittinggi melaksanakan peletakkan batu pertama pembangunan Surau Al-Hidayah di lingkungan kampus baru ITBHAS, Kelurahan Campago Guguak Bulek, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, Kota Bukittinggi, Senin (11/5/2026). Perkuat pendidikan berkarakter dan spiritual.

Kegiatan dihadiri keluarga pewakaf, Hj. Asweti beserta Keluarga, Dewan Pembina Yayasan Indonesia Raya Bukittinggi Endang Erizal, Rektor ITBHAS Dr. Yulihasri beserta jajaran, Pemerintah Kota Bukittinggi yang diwakili Staf Ahli Bidang Hukum dan Pemerintahan Emil Achir, Kepala Kementerian Agama Kota Bukittinggi Irwan, unsur Forkopimda, para alumni, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Rektor ITBHAS Bukittinggi Dr. Yulihasri menyampaikan rasa syukur atas dimulainya pembangunan surau tersebut, terlebih setelah aktivitas perkuliahan resmi dipindahkan ke kampus baru.

“Alhamdulillah, setelah minggu lalu kita pindah ke kampus baru, hari ini kita kembali mendapat amanah berupa wakaf pembangunan Surau Al-Hidayah untuk kampus ITBHAS Bukittinggi,” ujarnya saat diwawancarai awak media.

“Ini merupakan wakaf dari satu keluarga. Hari ini kita mulai dengan peletakkan batu pertama, dan insyaAllah pembangunannya diperkirakan selesai dalam lima sampai enam bulan,” katanya.

Keberadaan surau tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan karakter dan pendidikan keagamaan mahasiswa, katanya.

“Selain untuk aktivitas ibadah, surau ini nantinya juga menjadi tempat pembelajaran kurikulum keagamaan dan penguatan karakter Haji Agus Salim bagi mahasiswa,” tambahnya.

Yulihasri menegaskan, Surau Al-Hidayah nantinya terbuka untuk masyarakat umum. Kehadiran surau di lingkungan kampus diharapkan mampu menjadi pusat syiar Islam sekaligus membangun citra positif kampus.

“Surau ini akan menjadi aura kampus yang bersinar. Tempat mahasiswa beribadah dan membentuk kualitas diri serta karakter yang baik,” ungkapnya.

Surau Al-Hidayah akan dibangun di atas lahan berukuran sekitar 7 x 15 meter, dengan luas bangunan 9 x 16 meter.

Sementara itu, Dewan Pembina Yayasan Indonesia Raya, Endang Erizal mengatakan, ITBHAS merupakan kampus yang mengusung pemikiran dan nilai-nilai perjuangan tokoh nasional asal Minangkabau, Haji Agus Salim.

“Sekolah ini lahir dari pemikiran tokoh besar Haji Agus Salim, seorang cendekiawan muslim terkenal dari Sumatera Barat. Beliau mengajarkan bagaimana mendidik manusia yang berkarakter, beradab, dan memiliki dasar agama yang kuat,” katanya.

Menurut Endang, pembangunan pendidikan tidak hanya berorientasi pada kecerdasan akademik, tetapi juga harus membentuk karakter dan integritas generasi muda.

“Belajar harus diimbangi dengan pembentukan karakter. Integritas harus dijaga, dan kegiatan keagamaan seperti pengajian akan memperkuat spiritual mahasiswa,” ujarnya.

Ia optimistis keberadaan kampus baru yang representatif akan meningkatkan jumlah mahasiswa ITBHAS di masa mendatang.

“Sekarang jumlah mahasiswa sekitar 700 orang. Ke depan, dengan kampus yang megah dan representatif ini, kita berharap bisa menampung hingga 3.000 mahasiswa,” jelasnya.

Menurutnya, perkembangan perguruan tinggi juga akan berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.

“Jika industri pendidikan ini berkembang besar, maka ekonomi masyarakat sekitar juga akan bergerak. Akan tumbuh kos-kosan, usaha laundry, kuliner, dan berbagai usaha lainnya,” tambah Endang.

Kemudian Ia juga menegaskan bahwa pembangunan manusia tidak boleh bersifat eksklusif, melainkan harus melibatkan masyarakat sekitar.

“Surau ini nantinya terbuka untuk umum. Masyarakat sekitar harus menjadi bagian dari pembangunan kampus ini,” tegasnya.

Perwakilan Hj Asweti,  keluarga pewakaf, Indra Makmur, menyampaikan bahwa pembangunan surau dilakukan hingga selesai dan siap digunakan untuk aktivitas ibadah.

“InsyaAllah pembangunan wakaf ini akan kami selesaikan hingga serah terima kunci dan langsung bisa dipergunakan untuk salat, dan Ibadah keagaaman lainnya” ujar Indra Makmur.

Kepala Kementerian Agama Kota Bukittinggi, Irwan, mengapresiasi pembangunan Surau Al-Hidayah yang dinilai menjadi langkah penting dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual.

“Semoga kampus ini mampu melahirkan generasi muda yang berakhlak mulia. Pendidikan tidak cukup hanya mencerdaskan otak, tetapi juga harus mengisi qalbu dan spiritual,” katanya.

“Ada tiga amalan yang tidak akan terputus, salah satunya amal jariyah. Selama surau ini digunakan untuk ibadah, maka pahala wakafnya akan terus mengalir,” ungkapnya.

Ketua Alumni ITBHAS, Fauzan Haviz, berharap perkembangan kampus dapat menjadi motor penggerak ekonomi Sumatera Barat, khususnya Kota Bukittinggi.

“Kita berharap ITBHAS semakin maju dan jumlah mahasiswanya terus meningkat sehingga mampu menjadi penggerak ekonomi daerah,” ujarnya.

Menurut Fauzan, sektor pendidikan tinggi memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Saat ini jumlah mahasiswa di Bukittinggi sekitar 35 ribu orang. Kalau ke depan bisa mencapai 75 ribu hingga 100 ribu mahasiswa, tentu ekonomi Bukittinggi akan semakin berjaya,” katanya.

Ia juga bersyukur karena di awal aktivitas perkuliahan di kampus baru, sudah ada masyarakat yang mewakafkan pembangunan surau.

“Kita berharap mahasiswa ITBHAS nantinya tidak hanya mengisi otak dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengisi hati dan jiwa dengan nilai-nilai spiritual,” tutupnya.***

Pewarta : sutan mudo

Komentar0

Type above and press Enter to search.