GUO9GpGoBSrpBUW9TSG0TUApTA==

Berhenti Menjadi Tuhan bagi Diri Sendiri: Pelajaran Al-Asy’ari untuk Mengatasi Kelelahan Mental Modern


Matajurnalist.com_Pernahkah Anda merasa lelah karena harus mengendalikan segala hal dalam hidup? Dunia modern hari ini sering kali terasa seperti sebuah panggung raksasa, di mana setiap orang dituntut untuk menjadi sutradara tunggal atas nasibnya sendiri. Kita hidup di tengah era yang memuja narasi kendali mutlak, seolah-olah setiap keberhasilan atau kegagalan sepenuhnya bergantung pada tangan kita sendiri. Namun, di balik gemerlap kemandirian itu, tersimpan ironi yang menyedihkan: banyak orang justru terjebak dalam kecemasan dan kelelahan mental yang akut. Tekanan hustle culture kian memperburuk situasi ini, tanpa menyisakan ruang sedikit pun untuk kegagalan ataupun jeda untuk bernapas.

Dari narasi kendali mutlak menuju krisis kelelahan batin

Ketika rencana-rencana yang telah disusun sedemikian rupa tidak berjalan mulus, manusia modern begitu mudah jatuh ke dalam jurang penyesalan atau amarah yang meluap. Di tengah turbulensi batin ini, menengok kembali pemikiran teologis klasik dapat menjadi sebuah jangkar yang kokoh. Ini bukanlah bentuk romantisasi masa lalu, melainkan sebuah cara navigasi yang stabil dalam menghadapi badai ketidakpastian. Salah satu gagasan yang sangat relevan untuk kita renungkan kembali adalah pemikiran dari Imam Al-Asy’ari, yang menawarkan jalan tengah bagi manusia yang lelah mengejar kepastian duniawi.

Imam Al-Asy’ari tidak berbicara dari tempat tinggi yang jauh dari realitas kehidupan. Ia sendiri mengalami transformasi intelektual yang besar, saat ia memutuskan keluar dari logika murni kaum Mu’tazilah menuju pendekatan yang lebih integratif. Melalui karya-karyanya, ia merumuskan jalan keluar dari rasionalisme yang kering. Perjalanannya mencerminkan sebuah pencarian keseimbangan antara teks wahyu dan konteks akal. Ia menegaskan akidah yang bersumber dari wahyu sebagai respons terhadap ekstremitas logika yang sering kali mengabaikan keterbatasan manusia.

Paradigma Al-Asy’ari tentang moderasi dan ketenangan jiwa

Inti pesan yang dibawa Al-Asy’ari sangatlah jelas: hidup tidak bisa diukur hanya dengan rumus matematika atau logika hitam-putih semata. Ada misteri dalam takdir yang perlu disambut dengan sikap rendah hati. Inilah yang disebut sebagai tawassuth atau moderasi—sebuah jalan tengah yang menghargai kemampuan akal tanpa harus mendewakan kendali manusia secara berlebihan. Di zaman sekarang, nilai moderasi ini menjadi obat mujarab untuk meredam kecenderungan manusia yang ingin mendominasi segala aspek hidup. Kita diajak untuk sadar bahwa di atas skenario yang kita buat, ada skenario besar yang jauh lebih bijaksana.

Konsep Al-Asy’ari mengenai kehendak Tuhan memiliki resonansi yang sangat kuat dengan krisis kesehatan mental hari ini. Ia merumuskan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya, namun manusia tetap memiliki kewajiban untuk berikhtiar secara maksimal. Dalam tataran praktis, pemahaman ini menjadi katup pengaman bagi jiwa yang sedang mengalami burnout. Budaya populer saat ini membebankan standar ganda: menuntut kesuksesan mutlak, dan jika gagal, kegagalan itu dianggap sebagai cacat pribadi. Pandangan Al-Asy’ari hadir untuk memutus rantai penyalahan diri yang destruktif tersebut.

Mewujudkan integritas batin sebagai katup pengaman psikologis

Saat kita memahami bahwa terdapat domain kehendak Ilahi di luar batas kemampuan kita, saat itulah kita berhenti memposisikan diri sebagai "tuhan" bagi diri sendiri. Kita tetap didorong untuk melakukan usaha terbaik, tetapi di saat yang sama kita merangkul ketenangan untuk menerima hasil apa pun. Ini adalah sebuah seni berdamai dengan kenyataan. Kita ibarat seorang aktor yang tugas utamanya adalah berusaha seoptimal mungkin, namun hasil akhir tetap milik Sang Pemilik Skenario yang Maha Kuasa.

Sebagai contoh, bayangkan seorang pekerja di sebuah perusahaan startup yang gagal mendapatkan promosi meskipun sudah bekerja lembur berbulan-bulan. Tanpa perspektif ini, ia mungkin akan jatuh ke dalam depresi dan terus menyalahkan dirinya sendiri. Namun, melalui lensa Al-Asy’ari, ia mampu berkata: "Aku sudah berikhtiar semaksimal mungkin, sisanya adalah tawakal." Kesadaran ini melepaskan beban psikologis yang menghimpit pundaknya.

Lebih mendasar lagi, Al-Asy’ari membangun otentisitas manusia melalui redefinisi makna iman. Iman baginya bukanlah sekadar abstraksi batin, melainkan sebuah simfoni yang sinkron antara keyakinan di dalam hati, pernyataan secara lisan, dan perilaku nyata. Di era kurasi identitas yang serba artifisial seperti sekarang, gagasan ini menjadi antitesis yang mengembalikan keutuhan diri. Sering kali citra yang kita tampilkan di layar ponsel adalah sebuah anomali jika dibandingkan dengan realitas batin, yang pada akhirnya menciptakan standar ganda yang melelahkan.

Menjangkar harapan di tengah banjir informasi dan ketidakpastian

Tekanan mental sering kali muncul akibat adanya diskoneksi antara siapa kita sebenarnya dan apa yang kita tampilkan di ruang publik. Dengan mengintegrasikan kembali keyakinan dan tindakan, kita dapat menemukan otentisitas yang menenangkan. Iman berubah menjadi gaya hidup yang selaras antara niat dan perbuatan. Integritas inilah yang membuat kita tidak mudah goyah oleh validasi eksternal maupun tren yang sedang lewat. Ambillah contoh dampak media sosial: seorang influencer mungkin mengunggah kehidupan yang tampak sempurna, padahal ia sedang depresi karena tidak bisa tampil autentik. Tekanan jumlah like dan pengikut membuat jiwanya terkoyak. Lewat pendekatan Al-Asy’ari, ia bisa membangun kembali integritasnya: jujur pada diri sendiri dan Tuhan, bukan terjebak dalam sandiwara demi validasi fana. Hal ini tentu akan meningkatkan daya tahan mental dan mengurangi kecemasan akibat perbandingan sosial.

Metode berpikir Al-Asy’ari juga menekankan pentingnya mendahulukan wahyu tanpa harus mematikan fungsi akal. Di era banjir informasi dan hoaks, memiliki sumber kebenaran yang tetap adalah sebuah kemewahan. Hal ini memberikan rasa aman psikologis karena ada sandaran yang jelas untuk membedakan hal yang substansial dari sekadar kebisingan. Kesadaran bahwa Tuhan Maha Mengetahui kapasitas setiap hamba-Nya memberikan gambaran tentang sosok Pencipta yang tidak akan membebankan sesuatu di luar batas kemampuan.

Secara psikologis, kesadaran ini menciptakan perasaan bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian saat menghadapi badai kehidupan. Ada kekuatan besar yang menyertai setiap langkah, yang memahami kelelahan kita bahkan sebelum kata-kata itu diucapkan. Pemikiran Al-Asy’ari mengarahkan keselamatan melampaui masa kini, mengingatkan kita pada dimensi keadilan absolut di masa depan. Perspektif jangka panjang ini sangat membantu dalam menjaga harapan di tengah penderitaan yang kita alami.

Pada akhirnya, warisan Al-Asy’ari mengajak kita untuk menjadi pribadi yang teguh namun tetap fleksibel dalam menghadapi zaman. Kita diajak untuk bekerja keras seolah-olah segalanya bergantung pada usaha kita, tetapi berserah diri seolah-olah segalanya bergantung pada Tuhan. Inilah bentuk moderasi yang menyelamatkan keyakinan sekaligus kewarasan jiwa kita. Takdir bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan kawan perjalanan menuju ketenangan. Berdamai dengan takdir adalah cara terbaik untuk merdeka dari belenggu ambisi yang selama ini membelenggu. Mulailah hari ini dengan satu ikhtiar dan satu tawakal. Siapa tahu, itulah kunci ketenangan yang selama ini Anda cari.

Naskah ini merupakan karya orisinil dan belum pernah dipublikasikan, baik sebagian maupun seluruhnya, di portal web atau media daring mana pun.

Penulis : Achmad Zain Avicena (Mahasiswa Akidah dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya)

Komentar0

Type above and press Enter to search.