GUO9GpGoBSrpBUW9TSG0TUApTA==

Hadapi Ancaman Narkoba hingga Isu LGBT, Bundo Kanduang Akabiluru Bekali Rang Mudo dan Puti Bungsu dengan Ketahanan Mental

kegiatan pembinaan sehari bagi Rang Mudo dan Puti Bungsu yang digelar oleh Bundo Kanduang Kecamatan Akabiluru, Ahad (28/6/2026).

LIMAPULUH KOTA, MataJurnalist.com_ Fenomena degradasi moral dan krisis identitas di kalangan generasi muda menjadi sorotan utama dalam kegiatan pembinaan sehari bagi Rang Mudo dan Puti Bungsu yang digelar oleh Bundo Kanduang Kecamatan Akabiluru, Ahad (28/6/2026).

Bertempat di Aula Lantai Tiga Pondok Pesantren Al-Manaar, Nagari Koto Tangah Batuhampar, acara ini tidak hanya membahas peran adat, tetapi juga membedah secara terbuka persoalan sosial yang tengah "meletup" di masyarakat, mulai dari penyalahgunaan narkoba, kehamilan di luar nikah, isu LGBT, hingga tingginya angka bunuh diri di kalangan remaja.

Suasana diskusi terasa hangat dan penuh keresahan. Para peserta, yang merupakan perwakilan pemuda dan pemudi dari berbagai nagari di Akabiluru, menyampaikan kebingungan mereka dalam menyikapi arus informasi dan perilaku menyimpang yang kian marak. Mereka menggambarkan situasi tersebut bak "mercon yang memekakkan telinga", sebuah metafora atas betapa bisingnya pengaruh negatif yang sulit dibendung di era digital ini.


Dialog Terbuka: Mencari Solusi di Tengah Krisis

Narasumber pagi hari Abi Ikhwan Hakim dan Fitra Yadi Malin Parmato menekankan tentang pengamalan Tauhid dalam setiap sisi kehidupan. Narasumber siang hari, Ir. Raudhati Ruslan, M.Pd., menekankan pentingnya filter budaya dan agama dalam menghadapi gempuran nilai-nilai asing yang bertentangan dengan adat Minangkabau. Sementara itu, sesi diskusi yang dipimpin oleh tokoh pemuda Ishfo Youse menjadi wadah perumusan Rencana Tindak Lanjut (RTL) bagi para Rang Mudo dan Puti Bungsu kedepannya.

"Kami merasa tertekan. Di satu sisi kami ingin mengikuti perkembangan zaman, tapi di sisi lain kami melihat banyak teman-teman kami terjebak dalam lingkaran narkoba atau pergaulan bebas. Kami butuh panduan konkret, bukan sekadar larangan," ungkap salah satu peserta dalam sesi diskusi.

Keresahan ini disikapi serius oleh jajaran Bundo Kanduang Kecamatan Akabiluru. Ketua Bundo Afrida, didampingi Wakil Ketua I dr. Hj. Rahmawati, MARS, dan Wakil Ketua II Bundo Yusra Ola, menegaskan bahwa Bundo Kanduang harus hadir sebagai tempat berlindung dan pembimbing utama bagi anak-anak muda.

"Bundo Kanduang bukan hanya simbol adat, tapi juga 'ibu' bagi seluruh anak nagari. Jika anak-anak muda sudah merasa tidak nyaman bercerita kepada orang tua kandung, maka pintu rumah Bundo Kanduang harus selalu terbuka untuk mendengarkan keluh kesah mereka sebelum terjerumus lebih dalam," tegas Bundo Afrida.

Sinergi Tiga Pilar: Adat, Agama, dan Pemerintah

Hadir dalam kesempatan tersebut Wali Nagari Batu Hampar, Asra Arafat, S.Si., serta tokoh pemuda Ishfo Youse dari Piladang Peduli. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen bersama antara lembaga adat, pemerintahan nagari, dan elemen pemuda untuk memutus mata rantai masalah sosial ini.

Acara yang didukung dana dari alumni Fakultas Kedokteran Angkatan 85 ini ditutup dengan penyerahan kembali amanah Rang Mudo dan Puti Bungsu kepada Wali Nagari. Dalam sambutannya, Asra Arafat menyambut baik inisiatif pembahasan isu sensitif ini.

"Pembinaan karakter tidak bisa lagi bersifat permukaan. Kita harus berani bicara soal narkoba, LGBT, dan kesehatan mental. Dengan adanya visi dan misi yang jelas dari hasil diskusi hari ini, saya berharap Rang Mudo dan Puti Bungsu bisa menjadi garda terdepan dalam memerangi kejahatan sosial di nagari masing-masing," tutup Wali Nagari Batu Hampar.

Kegiatan berakhir pukul 16.00 WIB dengan semangat baru bagi para pemuda Akabiluru untuk menjadi agen perubahan yang tangguh secara mental dan berpegang teguh pada nilai adat basandi syarak.

Pewarta: F. Malin Parmato

Komentar0

Type above and press Enter to search.