![]() |
| Aisyah Jannatus Shabrina (23 th) Srikandi dari Padang menghadirkan cahaya pendidikan Islam di pelosok Mentawai |
MENTAWAI, Matajurnalist.com – Dibalik serah terima uang tunai sebesar Rp25 juta untuk pelunasan tanah dan bangunan TK RA Bakti 145 Bulasat di Kecamatan Pagai Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai pada Kamis (25/6/2026), tersimpan sebuah kisah inspiratif tentang visi muda seorang Srikandi dan kepedulian sosial.
![]() |
| Berpoto bersama setelah acara penyerahan uang untuk pelunasan pembelian tanah dan bangunan untuk TK-RA Bakti 145 Bulasat |
Kegiatan Ketua Yayasan Pendidikan Bakti Wanita Islam (YPB-WI) Sumatera Barat, Ir. Hj. Raudhati Ruslan, M.Pd., beserta rekan-rekan dalam melunasi aset sekolah tersebut bukan sekadar transaksi finansial, melainkan penutup dari babak perjuangan seorang pemudi bernama Aisyah Jannatus Shabrina Srikandi dari Padang menghadirkan cahaya pendidikan Islam di pelosok Mentawai.
![]() |
| Aisyah Jannatus Shabrina bersama kedua orang tuanya saat wisuda Unand di bulan September tahun 2024 |
Aisyah (23 tahun), putri bungsu dari pasangan Bapak Ikhwan Hakim dan Ibu dr. Rahmawati, MARS, selama kurang lebih satu tahun, ia telah mengabdikan diri sebagai tenaga kesehatan penugasan khusus di Puskesmas Bulasat.
Latar belakangnya sebagai aktivis mahasiswa di Universitas Andalas (UNAND) Padang membawa semangat perubahan yang kuat saat ia tiba di kepulauan terpencil ini.
Melihat Celah Kebutuhan Pendidikan Islam
Di tengah kesibukannya melayani masyarakat sebagai tenaga kesehatan masyarakat, mata tajam Aisyah menangkap sebuah realitas pendidikan di Desa Bulasat. Ia menyadari bahwa desa ini masih sangat membutuhkan pendidikan Islam terutama pada usia dini.
"Anak-anak muslim di mentawai sangat membutuhkan fondasi pendidikan Islam. Meskipun berada di tengah mayoritas non-muslim, tetapi mereka harusnya tetap bisa mendapatkan nilai nilai Islami sedari dini” demikian kira-kira gagasan awal yang muncul dalam benak Aisyah.
Berbekal kepedulian itu, Aisyah mulai berdiskusi intensif dengan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Dari diskusi-diskusi hangat di beranda rumah warga hingga pertemuan formal, ide untuk mendirikan Taman Kanak-Kanak Raudhatul Athfal (RA) akhirnya mendapat sambutan positif. Ide tersebut bukan hanya angan-angan, melainkan kebutuhan mendesak yang disepakati bersama.
![]() |
| Aisyah bersama murid-murid dan guru TK-RA Bakti 145 Bulasat |
Dukungan Keluarga Besar dan Langkah Konkret
Momentum semakin matang ketika keluarga besar Aisyah, yang merupakan pengurus Yayasan Pendidikan Bakti Wanita Islam (YPB-WI) Sumatera Barat, turut memberikan dukungan penuh. Dengan gotong royong pemikiran dan sumber daya, mereka memutuskan untuk bertindak nyata. Sebidang tanah beserta bangunan dibeli dan didirikanlah TK Bakti Bungsu dengan nomor urut 145, berlokasi strategis di dekat Pasar Bulasat agar mudah diakses oleh warga.
Kehadiran TK ini menjadi fase baru bagi orang tua di Bulasat yang sebelumnya kesulitan mencari tempat pendidikan pra-sekolah yang layak bagi anak-anak mereka.
![]() |
| Poto bersama guru-guru, pengurus, wali mutid serta tokoh masyarakat ketika acara pelepasan peserta didik angkatan pertama |
Pelunasan sebagai Simbol Keberlanjutan
Puncak dari perjalanan satu tahun tersebut terjadi hari ini, Kamis (25/6/2026). Ketua YPB-WI Sumbar, Ir. Hj. Raudhati Ruslan, M.Pd., hadir langsung ke TK RA Bakti 43 Sikakap (lokasi administrasi/serah terima) untuk menyerahkan dana pelunasan senilai Rp25 juta itu. Penyerahan ini memastikan bahwa aset tanah dan bangunan sekolah tersebut kini sepenuhnya menjadi milik yayasan, bebas dari beban utang, dan siap melayani generasi penerus bangsa di Mentawai dalam jangka panjang.
Hadirnya Aisyah Jannatus Shabrina dalam momen ini menjadi simbol bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil individu yang peduli. Ia tampil bukan hanya sebagai petugas kesehatan, tetapi sebagai pelopor dan inisiator pendidikan yang memiliki visi ke depan.
Mengajar Les Bahasa Inggris Gratis
Selain berpartisipasi di sekolah TK, Aisyah juga mengadakan program les bahasa Inggris gratis bersama temannya untuk anak-anak usia sekolah SD.
Program les bahasa Inggris gratis ini diinisiasi oleh teman Aisyah, seorang tenaga penugasan khusus pula berprofesi sebagai perawat gigi asal Bali bernama Ni Wayan Maeta Dewi Suryantari (panggilan Maeta).
![]() |
| Les bahasa Inggris Gratis untuk anak usia SD di warung warga |
Awalnya, kegiatan belajar mengajar dilakukan setiap hari Rabu dan Sabtu sore di warung milik salah satu warga, setelah anak-anak pulang sekolah dan setelah mereka selesai bertugas.
Aisyah dan Maeta mengajar bersama untuk siswa sekolah dasar (SD). Meskipun berada di daerah 3T, semangat belajar anak-anak ternyata sangat tinggi. Mereka tampak sangat antusias karena metode pengajaran mereka dinilai lebih seru dibandingkan dengan pembelajaran di sekolah, terutama mengingat tidak adanya guru bahasa Inggris di sana.
Seiring berjalannya waktu, kepala sekolah SD setempat memanggil mereka dan meminta agar kegiatan mengajar ini dipindahkan ke lingkungan sekolah agar lebih terfasilitasi. Permintaan ini pun disetujui oleh kepala puskesmas.
Sebagai apresiasi bagi 25 anak yang rajin menghadiri les, mereka memberikan buku kamus Bahasa Inggris-Indonesia. Dana untuk pembelian buku tersebut berasal dari sumbangan donatur, termasuk seorang dokter umum di wilayah ini dan muhsinin lainnya.
Kisah Aisyah dan TK RA Bakti 145 Bulasat dan mengajar les bahasa Inggris gratis itu membuktikan bahwa kolaborasi antara masyarakat, penggerak dan dukungan organisasi seperti YPB-WI dapat menciptakan dampak nyata bagi kemajuan pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Pewarta: F. Malin Parmato



.webp)






Komentar0