Bukittinggi MataJurnalist.com_Pemerolehan bahasa kedua (second language acquisition/SLA) merupakan proses ketika seseorang mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa selain bahasa pertamanya. Dalam pembelajaran bahasa Inggris, proses ini dapat berlangsung di lingkungan formal (buatan), seperti sekolah dan kursus, maupun di lingkungan informal, seperti percakapan sehari-hari, media digital, dan interaksi sosial. Kedua lingkungan tersebut menyediakan pengalaman bahasa yang berbeda.
Lingkungan formal umumnya menawarkan pembelajaran terencana, penjelasan tata Bahasa (grammar), latihan, dan umpan balik dari guru. Sebaliknya, lingkungan informal lebih sering memberi kesempatan kepada pembelajar untuk memahami dan menggunakan bahasa dalam situasi yang memiliki tujuan komunikasi nyata.
Krashen dan Seliger (1975), menyatakan bahwa semua sistem pengajaran Bahasa yang digunakan untuk orang dewasa memanfaatkan kegiatan yang menyajikan aturan-aturan linguistik satu per satu dan memberikan semacam umpan balik (feedback), seperti koreksi kesalahan (error detection). Ciri-ciri lain dari pembelajaran formal, misalnya penyajian aturan secara deduktif (deductive presentation of rules), tidak ditemukan dalam semua metode pengajaran. Krashen dan Seliger juga mencatat bahwa ciri-ciri tersebut, yaitu penjelasan aturan secara terpisah (rule isolation) dan pemberian umpan balik (feedback), tampaknya tidak ditemukan dalam lingkungan informal.
Diantara lingkungan formal dan informal terdapat perbedaan. Perbedaan ini penting karena keberhasilan belajar bahasa tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak aturan yang dihafal, tetapi juga oleh kesempatan untuk memahami pesan dan menggunakan bahasa secara bermakna. Krashen (1976) membahas bagaimana lingkungan formal dan informal dapat memberikan kontribusi yang berbeda terhadap kompetensi bahasa kedua. Esai ini menjelaskan karakteristik kedua lingkungan, menghubungkannya dengan teori Krashen terutama hipotesis input serta membahas penerapannya dalam pengajaran bahasa Inggris di Indonesia. Argumen utama esai ini adalah bahwa lingkungan formal dan informal sebaiknya dipandang sebagai lingkungan yang saling melengkapi, bukan sebagai dua pilihan yang harus dipertentangkan.
Lingkungan Formal dan Informal
Lingkungan formal adalah konteks pembelajaran yang terstruktur dan biasanya berlangsung di ruang kelas atau lembaga pendidikan. Guru menetapkan tujuan pembelajaran, memilih materi, menjelaskan unsur bahasa, serta menilai perkembangan siswa. Misalnya, dalam pelajaran bahasa Inggris, guru dapat mengajarkan bentuk lampau (past tense), memperkenalkan kosakata (vocabulary) tentang pengalaman liburan, lalu meminta siswa menulis atau menceritakan pengalaman mereka.
Pembelajaran formal dapat membantu siswa memperhatikan bentuk bahasa secara sadar, menerima koreksi, dan memahami pola yang mungkin sulit mereka sadari hanya melalui percakapan.
Lingkungan informal merupakan konteks ketika bahasa dipelajari atau digunakan di luar kegiatan pengajaran yang terstruktur. Contohnya adalah berbicara dengan teman, menonton video berbahasa Inggris, membaca cerita sesuai minat, bermain permainan edukatif, atau mengikuti percakapan daring yang sesuai usia.
Dalam situasi seperti ini, perhatian pembelajar sering terarah pada makna dan tujuan komunikasi, bukan semata-mata pada aturan tata bahasa. Namun, paparan informal tidak otomatis menghasilkan pembelajaran. Jika siswa hanya mendengar bahasa yang terlalu sulit tanpa memahami pesannya atau tidak pernah mencoba berinteraksi, manfaatnya mungkin terbatas.
Dalam lingkungan informal, input yang dapat dipahami dapat diperoleh melalui video dengan topik yang dikenal, bacaan bertingkat, lagu yang sesuai untuk pembelajaran, atau percakapan dengan teman. Meski demikian, media harus dipilih dengan hati-hati. Video yang terlalu cepat atau penuh ungkapan yang tidak dikenal dapat menyulitkan siswa. Guru dan orang tua dapat membantu pembelajar memilih materi yang sesuai, menggunakan teks pendamping jika diperlukan, dan mengulang materi untuk memperkuat pemahaman.
Penerapan dalam Pembelajaran Bahasa Inggris di Indonesia
Di Indonesia, bahasa Inggris bagi banyak siswa merupakan bahasa asing yang jarang digunakan dalam komunikasi sehari-hari di luar kelas. Oleh sebab itu, lingkungan formal memiliki peran penting untuk memastikan siswa memperoleh input yang terarah dan kesempatan berlatih. Namun, waktu belajar di sekolah terbatas.
Guru dapat menghubungkan pembelajaran kelas dengan aktivitas informal yang realistis agar siswa memperoleh paparan bahasa secara lebih teratur.
Sebagai contoh, setelah mempelajari teks deskriptif tentang hewan, siswa dapat diminta menonton video pendek berbahasa Inggris tentang hewan yang sama, membaca teks sederhana, lalu menjelaskan tiga fakta kepada pasangan.
Di kelas, guru memberikan kosakata kunci dan model kalimat. Di luar kelas, siswa dapat mengulang video atau membaca materi sesuai minat. Pada pertemuan berikutnya, siswa berbagi informasi dan guru memberikan umpan balik atas penggunaan kosakata atau struktur yang perlu diperbaiki. Rangkaian ini menggabungkan input yang terarah, penggunaan bahasa, dan perhatian terhadap bentuk atau struktur tata Bahasa (grammar).
Guru juga perlu menciptakan suasana yang mendukung. Siswa yang takut ditertawakan karena kesalahan mungkin enggan berbicara. Oleh karena itu, kegiatan berpasangan, diskusi kelompok kecil, dan kesempatan untuk mempersiapkan jawaban dapat membantu mereka berpartisipasi. Kesalahan sebaiknya diperlakukan sebagai bagian dari proses belajar, sementara koreksi diberikan secara konstruktif dan sesuai tujuan kegiatan. Teknologi dapat memperluas akses ke materi autentik, tetapi penggunaannya harus terarah seperti : siswa perlu memiliki tujuan, memilih sumber yang sesuai, dan tidak sekadar memutar video tanpa berusaha memahami isi.
Integrasi ini juga membutuhkan pemerataan akses. Tidak semua siswa memiliki koneksi internet atau perangkat pribadi yang stabil. Guru dapat menyediakan teks cetak, berkas audio yang dapat digunakan tanpa internet, atau kegiatan percakapan di sekolah sebagai alternatif. Dengan demikian, aktivitas informal tidak menjadi beban tambahan bagi siswa yang memiliki sumber daya terbatas.
Tantangan dan Implikasi Pedagogis
Walaupun lingkungan formal dan informal sama-sama bermanfaat, keduanya memiliki keterbatasan. Pengajaran formal yang terlalu berfokus pada aturan dan latihan terpisah dapat membuat siswa mampu menjawab soal tetapi kurang percaya diri saat berkomunikasi.
Selain itu, pengajaran formal juga memiliki keterbatasan waktu. Sebaliknya, aktivitas informal tanpa bimbingan dapat memberi sedikit kesempatan untuk memperhatikan bentuk bahasa, memeriksa pemahaman, atau memperbaiki kesalahan yang berulang.
Guru dapat merancang siklus pembelajaran yang mencakup persiapan formal, paparan bermakna, interaksi, dan refleksi. Pertama, guru memperkenalkan kosakata atau pola bahasa yang diperlukan. Kedua, siswa menerima input melalui cerita, video, atau bacaan yang dapat dipahami. Ketiga, siswa menggunakan informasi tersebut dalam tugas komunikatif. Terakhir, guru dan siswa meninjau bagian yang berhasil dan unsur bahasa yang masih perlu diperbaiki. Siklus ini membantu menjembatani pengetahuan yang dipelajari secara sadar dengan penggunaan bahasa dalam konteks.
Lingkungan formal dan informal memiliki peran yang saling melengkapi dalam pemerolehan bahasa kedua. Lingkungan formal menyediakan pembelajaran terencana, penjelasan, latihan, dan umpan balik, sedangkan lingkungan informal memperluas paparan serta penggunaan bahasa dalam konteks bermakna.
Teori Krashen, khususnya Input Hypothesis, menekankan pentingnya input yang dapat dipahami dan sedikit melampaui kemampuan pembelajar. Akan tetapi, manfaat input bergantung pula pada keterlibatan dan kualitas pengalaman belajar.
Dalam pengajaran bahasa Inggris di Indonesia, guru dapat menghubungkan kegiatan kelas dengan bacaan, video, dan interaksi sederhana di luar kelas, sambil mempertimbangkan tingkat kemampuan, rasa percaya diri, serta akses teknologi siswa. Pendekatan terpadu seperti ini berpotensi menciptakan kesempatan belajar yang lebih kaya dan relevan.(*)
Artikel : Anggi Murni S.Pd
UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi


Komentar0