![]() |
| Yulietra, S.Pd., Kepala UPTD SDN 04 Sarilamak |
SARILAMAK, MataJurnalist — Kepemimpinan di sekolah tidak selalu lahir dari meja kerja dan jabatan. Dalam perjalanan seorang pendidik, cara memandang pendidikan dapat tumbuh dari pengalaman belajar, lingkungan keluarga, organisasi yang pernah diikuti, hingga nilai-nilai yang diperoleh sejak menjadi pelajar.
Jejak perjalanan itu tampak dalam kepemimpinan Yulietra, S.Pd., di UPTD SDN 04 Sarilamak, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota.
Sebelum dipercaya memimpin sekolah tersebut, Yulietra menempuh pendidikan dasar di Suayan Randah, kemudian melanjutkan ke SMP Plus Ibnu Khaldun Tanjung Pati dan MAN 2 Payakumbuh. Ketika berada di MAN 2 Payakumbuh, ia bergabung dengan Pelajar Islam Indonesia (PII), organisasi yang sejak berdiri pada 1947 menempatkan pendidikan dan kebudayaan sebagai bagian penting dari gerakannya.
Secara resmi, PII memiliki tiga komitmen, yakni ke-pelajaran, ke-islaman dan ke-Indonesiaan. Organisasi tersebut juga menempatkan pembentukan pribadi Muslim, keberhasilan pendidikan, latihan kepemimpinan dan pengembangan potensi sebagai bagian dari fungsi kaderisasinya.
Pengalaman tersebut menarik jika ditempatkan dalam perjalanan pendidikan Yulietra. Sebab, jauh sebelum bergabung dengan PII, ia telah berada di lingkungan pendidikan Islam SMP Plus Ibnu Khaldun Tanjung Pati.
Bahan sejarah pendidikan yang telah ditelusuri menunjukkan SMP Plus Ibnu Khaldun berdiri pada 1997 dan pada masa awal kegiatan pendidikannya berlangsung di Training College, Jalan Arisun Nomor 51 Labuah Baru, Payakumbuh, sebelum kemudian berkembang di Tanjung Pati.
Karena itu, pengalaman pendidikan Yulietra sejak dari Suayan, Ibnu Khaldun hingga MAN 2 Payakumbuh dan keterlibatannya dalam PII menjadi bagian penting untuk memahami perjalanan pembentukan dirinya sebagai seorang pendidik.
Yang dapat dilihat di UPTD SDN 04 Sarilamak adalah adanya perhatian yang cukup kuat terhadap pendidikan karakter dan pembiasaan keagamaan.
Salah satunya melalui Sakato Mangaji. UPTD SDN 04 Sarilamak menjadi salah satu dari empat satuan pendidikan yang ditetapkan sebagai sekolah percontohan dalam peluncuran program Sakato Mangaji oleh Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota pada 27 Mei 2025. Program tersebut diarahkan untuk membentuk karakter religius peserta didik melalui pembiasaan membaca Al-Qur'an.
Di lingkungan sekolah, pembiasaan keagamaan kemudian berkembang dalam berbagai bentuk. Para siswa melaksanakan shalat Dhuha secara bergiliran di mushalla sekolah. Setiap Jumat, kegiatan shalat Dhuha juga dilakukan secara berjamaah sebelum peserta didik memasuki kelas.
Yang lebih khas adalah program Kampus, yang merupakan kependekan dari Kamis Puasa Sunnah.
Program tersebut tidak berhenti pada anjuran kepada siswa untuk berpuasa. Sekolah berusaha membangun ekosistem yang mendukungnya dengan melibatkan orang tua, komite sekolah dan lingkungan sekolah.
Pada Kamis puasa sunnah, misalnya, dukungan lingkungan sekolah dilakukan dengan meniadakan aktivitas penjualan makanan di kantin dan tidak menerima distribusi makanan program MBG pada hari tersebut. Tujuannya agar siswa yang berpuasa tidak berhadapan dengan terlalu banyak godaan dari lingkungan sekitarnya.
Pada bulan ketiga pelaksanaan program, sekolah juga menggelar buka puasa bersama siswa kelas IV hingga VI yang menjalankan puasa, bersama orang tua dan sejumlah unsur terkait pendidikan di Kecamatan Harau pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Kegiatan itu memperlihatkan bahwa program keagamaan di sekolah tidak ditempatkan semata-mata sebagai kegiatan seremonial. Ada upaya membangun kebiasaan, melibatkan keluarga dan menciptakan lingkungan yang mendukung pembentukan karakter anak.
Dari sisi kepemimpinan, pola tersebut menarik karena memperlihatkan perhatian pada pembiasaan, bukan hanya kegiatan sesaat.
Hal itu sejalan dengan tujuan umum Sakato Mangaji yang dirancang Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota untuk menanamkan kebiasaan baik dan memperkuat karakter religius di lingkungan satuan pendidikan.
Dalam konteks perjalanan pribadi Yulietra, rangkaian tersebut dapat dibaca sebagai kemungkinan adanya kesinambungan nilai yang ia peroleh sejak menjadi pelajar.
Ia pernah berada dalam lingkungan pendidikan Islam Ibnu Khaldun. Ia kemudian mengenal organisasi kepelajaran Islam melalui PII. PII sendiri secara resmi menjelaskan bahwa kader idealnya diharapkan memiliki unsur Muslim, cendekia dan pemimpin, serta mampu mengembangkan kemampuan mengambil keputusan dan mengelola potensi lingkungan.
Nilai-nilai tersebut tentu tidak otomatis menjelaskan seluruh kebijakan seorang kepala sekolah. Pengalaman profesional, kondisi sekolah, kebijakan pemerintah daerah, kebutuhan peserta didik, masukan orang tua dan kerja bersama guru serta komite juga turut menentukan arah pengelolaan sekolah.
Tetapi ketika melihat program Sakato Mangaji, shalat Dhuha dan Kamis Puasa Sunnah yang berkembang di UPTD SDN 04 Sarilamak, perjalanan pendidikan dan organisasi Yulietra menjadi bagian yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh.
Ada sebuah pertanyaan yang kemudian layak diajukan kepada Yulietra:
Apakah nilai-nilai yang diperolehnya ketika belajar di Ibnu Khaldun dan berproses dalam PII ikut memengaruhi cara pandangnya dalam membangun karakter peserta didik di SDN 04 Sarilamak?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menjadi kunci untuk melihat apakah program-program tersebut sekadar kebijakan seorang kepala sekolah, atau merupakan kelanjutan dari ideologi dan nilai pendidikan yang telah tumbuh dalam perjalanan hidupnya.
Bagi SDN 04 Sarilamak, yang kini menjadi salah satu sekolah percontohan Sakato Mangaji, perjalanan tersebut menjadi bagian menarik dari cerita tentang bagaimana seorang pendidik membawa pengalaman masa lalu ke dalam ruang pendidikan yang dipimpinnya hari ini.
Penulis: F. Malin Parmato

.jpg)
Komentar0