Foto Istimewa : Dua Ambulans yang terparkir di lingkungan RSUD Bukittinggi. Keluarga pasien mengeluhkan proses penggunaan ambulans saat membutuhkan rujukan darurat.
Bukittinggi MataJurnalist.com_Pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Bukittinggi kembali menjadi sorotan setelah seorang pasien lanjut usia yang mengalami kecelakaan diduga harus menunggu sekitar dua jam untuk mendapatkan proses rujukan ke rumah sakit lain. Keluarga pasien mempertanyakan mengapa ambulans yang tersedia di rumah sakit tidak segera digunakan, meski kondisi pasien dinilai membutuhkan penanganan cepat.
Peristiwa ini kembali memunculkan diskusi mengenai pentingnya keseimbangan antara penerapan prosedur administrasi dan kebutuhan pelayanan darurat yang cepat. Di tengah tuntutan pelayanan kesehatan yang semakin responsif, masyarakat berharap setiap kebijakan dan SOP tetap menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas utama.
Dalam situasi gawat darurat, setiap menit memiliki arti penting. Karena itu, selain kepatuhan terhadap prosedur, aspek kemanusiaan dan kecepatan respons menjadi elemen yang tidak terpisahkan dalam upaya menyelamatkan nyawa pasien.
Pasien tersebut adalah Amril (68), warga Gadut, Kabupaten Agam. Menurut keterangan keluarganya, Januar (54), peristiwa itu terjadi pada Senin (8/6) sore setelah Amril mengalami kecelakaan di rumah dan mengalami luka di bagian kepala.
"Sesampainya di IGD, pasien memang langsung mendapatkan penanganan awal berupa pemasangan perban dan pembersihan luka di bagian belakang kepala. Namun setelah diperiksa, kami diberitahu bahwa pasien harus dirujuk ke rumah sakit lain karena RSUD Bukittinggi belum memiliki fasilitas CT Scan," ujar Januar.
Menurutnya, keluarga berharap proses rujukan dapat segera dilakukan menggunakan ambulans milik rumah sakit yang saat itu berada di lokasi. Namun, kata dia, penggunaan ambulans tidak bisa langsung dilakukan karena masih terdapat sejumlah persyaratan administrasi yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Januar mengaku kondisi tersebut membuat keluarga berada dalam situasi sulit. Di satu sisi pasien membutuhkan pemeriksaan lanjutan sesegera mungkin, sementara di sisi lain proses administrasi dinilai memperlambat keberangkatan pasien menuju rumah sakit rujukan.
"Yang kami pertanyakan bukan soal prosedurnya, tetapi soal sisi kemanusiaannya. Jika memang ada administrasi atau biaya yang harus dibereskan, seharusnya itu bisa diselesaikan setelah pasien diantar. Dalam kondisi seperti ini, keselamatan pasien mestinya menjadi prioritas utama," tegasnya.
Karena khawatir kondisi pasien semakin memburuk, keluarga akhirnya berinisiatif mencari ambulans secara mandiri. Bantuan kemudian datang dari Ambulans Masjid Jamiyatul Abrar, Aro Kandikia, Nagari Gadut, yang bersedia mengantarkan pasien ke rumah sakit tujuan.
Namun kendala belum berakhir. Setibanya di rumah sakit rujukan, pihak keluarga mengaku kembali menghadapi hambatan administratif. Dokter jaga disebut mempertanyakan kelengkapan dokumen dan surat rujukan dari rumah sakit sebelumnya sehingga proses pelayanan sempat tertunda.
Menanggapi keluhan tersebut, pihak RSUD Bukittinggi menegaskan bahwa seluruh tindakan yang diberikan kepada pasien telah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
Bagian Humas RSUD Bukittinggi, Idola, menjelaskan bahwa pasien diterima dan langsung mendapatkan pelayanan medis sesuai kebutuhan. Dari hasil pemeriksaan awal, pasien diketahui memiliki riwayat penyakit jantung sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang lebih lanjut yang tidak dapat dilakukan di RSUD Bukittinggi karena belum tersedianya fasilitas CT Scan.
"Pasien sudah kami terima dan langsung ditangani. Karena RSUD Bukittinggi belum memiliki CT Scan, kami mengupayakan rujukan ke RSAM. Namun proses rujukan membutuhkan waktu. Sementara pihak keluarga menginginkan pasien segera berangkat, sehingga disarankan menggunakan ambulans secara mandiri agar penanganan lanjutan bisa lebih cepat dilakukan," jelasnya.
Diketahui awak media, di RSUD Bukittinggi saat ini memiliki beberapa unit ambulans operasional, termasuk kendaraan bantuan dari berbagai pihak seperti Yayasan Prabowo Subianto, BRI Peduli, dan Bank Nagari.***
Pewarta : sutan mudo


Komentar0