GUO9GpGoBSrpBUW9TSG0TUApTA==

Di Balik "BAST" Bantuan Mushalla Muhajirin Batu Nago: Harapan Baru di Tengah Retakan Tanah dan Dua Surau yang Menanti di Bigau, Baruah Gunuang

NU Care-Lazisnu secara resmi menyerahkan bantuan sarana dan prasarana kepada Musholla Muhajirin Batu Nago pada Selasa (30/6/2026).

Limapuluh Kota, MataJurnalist.com_ Di Jorong Bigau, Nagari Baruah Gunuang, Kecamatan Bukik Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota, Selasa (30/6/2026) menjadi hari yang ditunggu-tunggu. NU Care-Lazisnu secara resmi menyerahkan bantuan sarana dan prasarana kepada Musholla Muhajirin Batu Nago. Penyerahan ini tertuang dalam Berita Acara Serah Terima (BAST) Nomor: 471/BAST-B3/B.II.I/LAZISNU-PBNU/VI/2026, ditandatangani oleh Umdatul Qori dari NU Care-Lazisnu Pusat dan Jeswandi Dt. Ijau selaku pengurus mushalla penerima manfaat.

Namun, di balik seremonial penyerahan sepuluh jenis barang bantuan—mulai dari karpet, soundsystem, genset, hingga Al-Qur'an—terkandung kisah panjang tentang ketangguhan warga menghadapi bencana gerakan tanah dan dilema antara dua tempat ibadah yang sama-sama membutuhkan uluran tangan.

Jejak Bencana dan Kerja Kemanusiaan

Jorong Bigau bukan sekadar titik koordinat dalam dokumen administrasi. Wilayah ini adalah salah satu kawasan yang paling terdampak bencana gerakan tanah beberapa bulan lalu. Topografi Bukit Barisan yang berbukit-bukit ditambah curah hujan tinggi menjadikan daerah ini rawan retak dan amblas. Data nasional awal 2025 pun mencatat Sumatera Barat sebagai wilayah dengan potensi gerakan tanah yang signifikan.

Kondisi ini memaksa warga hidup dalam ketidakpastian. Kepala Jorong Bigau sendiri dikabarkan sedang sakit akibat tekanan psikologis dan fisik, sehingga warga berusaha menjaga beliau dari kabar buruk. Di tengah situasi itu, kehadiran aktivis kemanusiaan seperti Pak Usman (Sium) dan istrinya, Ibu Ita, dari Sungai Naniang, menjadi oase. Mereka turun langsung ke pengungsian di Tanjuang, berdiskusi dengan warga, dan mengumpulkan data kerusakan.

Dari dialog itulah, atas rekomendasi Pak Usman, Pengurus Musholla Muhajirin Batu Nago menyusun proposal kebutuhan pemulihan pasca-bencana. Melalui upaya keras pengurus mushalla dan koordinasi dengan Lazisnu Limapuluh Kota, alokasi dana BPKH yang semula difokuskan untuk Sumatera Utara berhasil dialihkan sebagian ke Jorong Bigau. Sebuah pencapaian yang tidak mudah di tengah birokrasi pemulihan bencana.

Dilema Dua Mushalla: Antara Dokumen dan Realita Lapangan

Meski bantuan telah tiba, dinamika di lapangan menunjukkan kompleksitas masalah yang tak bisa diselesaikan hanya dengan satu Berita Acara Serah Terima. Di Jorong Bigau terdapat tiga tempat ibadah: Masjid Tazkir, Mushalla Nurul Iman Tanjuang, dan Mushalla Muhajirin Batu Nago. Keduanya, Mushalla Nurul Iman dan Muhajirin, berada dalam kondisi memprihatinkan.

Pada hari penyerahan, 30 Juni 2026, warga Tanjuang sempat mengusulkan agar bantuan diserahkan di lokasi mereka. Alasannya pragmatis: mayoritas warga Batu Nago kini mengungsi di Hunian Sementara (Huntara) di Tanjuang, dan Mushalla Nurul Iman Tanjuang juga sangat membutuhkan fasilitas. Lebih lagi, bangunan Mushalla Muhajirin Batu Nago sendiri sudah retak-retak dan nyaris roboh, sehingga dikhawatirkan tidak layak menampung barang bantuan baru.

Namun, aturan administrasi memiliki batasnya. BAST (Berita Acara Serah Terima) telah ditandatangani dengan nama "Musholla Muhajirin Batu Nago" beserta koordinat spesifik yang tidak dapat diubah lagi demi akuntabilitas program.

Menyikapi hal ini, warga dan pengurus mengambil jalan tengah yang bijak. Bantuan yang diterima akan disimpan sementara di tempat aman. Rencana jangka panjangnya, jika pemerintah membangun 14 unit hunian baru plus mushalla di area Sawah Liek (seberang Lakuak), maka peralatan ini akan digunakan di sana. Sementara untuk Mushalla Nurul Iman Tanjuang, warga bertekad mencari donatur terpisah.

Surau di Tepi Jalan yang Masih Terbengkalai

Kondisi Mushalla Nurul Iman Tanjuang memang menyedihkan sekaligus membanggakan. Secara fisik, pembangunan surau ini masih terbengkalai. Material seperti batu bata, kerekel, kayu, dan batu sudah tersedia, namun dana untuk upah tukang, semen, atap, dan triplex belum mencukupi.

Ironisnya, meski bangunan belum rampung, surau ini tetap ramai. Terletak strategis di tepi jalan utama penghubung Baruah Gunuang ke Sungai Siriah dan Koto Tinggi, Mushalla Nurul Iman menjadi tempat persinggahan wajib bagi musafir. Sumber airnya juga melimpah. Bagi warga dan tokoh masyarakat setempat, surau ini bukan sekadar tumpukan material, melainkan denyut nadi spiritual yang terus berdenyut meski fisiknya belum utuh.

Ketua NU Care-Lazisnu Limapuluh Kota, Abdul Fatah, didampingi Bendahara Erni Setiya Ningsih, Pak Tono, dan Wahyu, menegaskan bahwa pihaknya hanyalah penyalur sesuai mandat pusat. Ia menyadari masih ada mushalla lain di jorong tersebut yang sangat butuh bantuan. "Semoga apa yang sudah diberikan ini bisa dimanfaatkan sesuai dengan peruntukannya," harapnya.

Kisah di Jorong Bigau mengajarkan bahwa pemulihan pasca-bencana bukan sekadar soal memindahkan barang dari donor ke penerima. Ia adalah tentang negosiasi harapan, adaptasi terhadap aturan, dan solidaritas warga yang tetap merawat iman di tengah retakan tanah dan keterbatasan dana. Semoga Mushalla Muhajirin segera menemukan rumah barunya di Sawah Liek, dan Mushalla Nurul Iman Tanjuang segera menemukan tangan-tangan dermawan untuk merampungkan dinding-dindingnya.

Pewarta: F. Malin Parmato


Komentar0

Type above and press Enter to search.