Bukittinggi, MataJurnalist.com_Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Bukittinggi, Roni Novendra, menyayangkan pernyataan yang disampaikan salah seorang orator mahasiswa dalam aksi demonstrasi terkait dugaan tindakan kekerasan yang dilakukan oknum Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) saat sengketa lahan di belakang Universitas Fort De Kock, yang terjadi pada pekan lalu.
Sebelumnya, mahasiswa dari sejumlah organisasi dan perguruan tinggi di Bukittinggi menggelar aksi unjuk rasa di Gedung DPRD Kota Bukittinggi. Aksi tersebut kemudian berlanjut di Balai Kota Bukittinggi pada Rabu (29/7/2026).
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan dua tuntutan kepada Wali Kota Bukittinggi, yakni meminta Kepala Satpol PP dicopot dari jabatannya serta meminta Wali Kota menyampaikan permohonan maaf atas dugaan tindakan yang dilakukan oleh bawahannya.
Namun, di tengah penyampaian orasi, salah seorang orator mahasiswa juga menyinggung keberadaan wartawan yang meliput aksi tersebut.
"Sekarang banyak wartawan di sini. Kita tidak tahu apakah mereka datang hanya untuk membuat berita dan mendapatkan uang, atau membantu kita menyebarkan informasi dan seluruh tuntutan kita kepada pimpinan pemerintahan."
Orator tersebut juga menambahkan "Wartawan yang ada di sini, berpihaklah kepada kebenaran. Jangan berpihak kepada yang membayar media."
Menanggapi pernyataan tersebut, Ketua SMSI Bukittinggi, Roni Novendra, mengaku menyayangkan ucapan yang disampaikan di hadapan publik. Menurutnya, pernyataan tersebut berpotensi menimbulkan kesan negatif terhadap profesi wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik.
"Kami mewakili rekan-rekan yang tergabung dalam Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Bukittinggi sangat menyayangkan pernyataan yang disampaikan dalam aksi tersebut. Wartawan yang hadir di lokasi pada dasarnya menjalankan tugasnya untuk meliput dan menyampaikan informasi kepada masyarakat mengenai apa yang terjadi di lapangan," ujar Roni.
Ia menilai, fokus orasi seharusnya tetap diarahkan pada substansi tuntutan demonstrasi, bukan melontarkan pernyataan yang dapat menggeneralisasi profesi wartawan.
"Seharusnya orasi tetap fokus pada tujuan demonstrasi dan tuntutan yang ingin disampaikan kepada pemerintah. Pernyataan yang mengarah pada penilaian terhadap profesi wartawan tidak semestinya disampaikan tanpa dasar yang jelas, apalagi di ruang publik," tegasnya.
Roni juga berharap hubungan yang baik antara mahasiswa dan insan pers tetap terjaga. Menurutnya, mahasiswa dan media memiliki peran yang sama dalam mengawal demokrasi serta menyampaikan aspirasi masyarakat secara terbuka dan bertanggung jawab.
"Kami menghormati hak mahasiswa untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Namun, kami juga berharap rekan-rekan mahasiswa dapat menghargai profesi wartawan yang bekerja berdasarkan kode etik jurnalistik dan menjalankan fungsi kontrol sosial demi kepentingan publik," pungkasnya.***
Pewarta : sutan mudo


Komentar0