Bukittinggi MataJurnalist.com_Peringatan Hari Lahir Kejaksaan Republik Indonesia ke-81 tahun 2026 menjadi momentum bagi jajaran Adhyaksa untuk kembali mengingat perjalanan panjang institusi penegak hukum tersebut, sejak awal berdiri hingga menjalankan tugasnya saat ini.
Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bukittinggi, Djamaluddin, SH, MH, mengatakan peringatan Hari Lahir Kejaksaan tahun ini dilaksanakan secara sederhana. Selain sebagai momentum refleksi sejarah, kegiatan juga diisi dengan agenda keagamaan berupa ceramah.
Hal itu disampaikan Djamaluddin saat diwawancarai awak media di ruang kerjanya, Rabu sore (2/9/2026).
Menurutnya, pelaksanaan kegiatan secara sederhana juga sejalan dengan arahan pimpinan dan kebijakan pemerintah agar setiap kegiatan kelembagaan tidak hanya menonjolkan seremonial, tetapi juga mengedepankan kepedulian sosial serta kedekatan dengan masyarakat.
“Memang tahun ini kita memperingati Hari Lahir Kejaksaan dengan sederhana. Kita lebih banyak melakukan kegiatan yang sifatnya humanis. Tahun sebelumnya kita juga sudah melaksanakan sejumlah kegiatan sosial sebagai bentuk kepedulian Kejaksaan kepada masyarakat,” ujar Djamaluddin.
Ia menegaskan, peringatan Hari Lahir Kejaksaan tidak semata-mata dimaknai sebagai kegiatan seremonial tahunan. Momentum tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi seluruh insan Adhyaksa untuk melihat kembali perjalanan sejarah lembaga serta perjuangan para pendahulu dalam membangun institusi penegak hukum di Indonesia.
Secara historis, keberadaan Kejaksaan di Indonesia memiliki perjalanan yang panjang. Salah satu tokoh penting dalam sejarah awal Kejaksaan adalah Mr. Gatot Taroenamihardja yang tercatat sebagai Jaksa Agung pertama Republik Indonesia.
Djamaluddin menjelaskan, Hari Lahir Kejaksaan yang diperingati setiap 2 September berkaitan dengan momentum pengangkatan dan pelantikan Gatot Taroenamihardja sebagai Jaksa Agung pertama oleh Presiden Soekarno pada 2 September 1945.
“Jadi, kalau kita memperingati Hari Lahir Kejaksaan setiap tanggal 2 September, itu tidak terlepas dari sejarah pengangkatan dan pelantikan Jaksa Agung pertama Republik Indonesia,” jelasnya.
Dalam perjalanan sejarah bangsa, kedudukan dan kelembagaan Kejaksaan juga terus mengalami perkembangan. Pada 22 Juli 1960, Kejaksaan berkembang menjadi departemen yang berdiri sendiri. Momentum tersebut kemudian menjadi dasar diperingatinya Hari Bhakti Adhyaksa setiap 22 Juli.
Seiring perubahan zaman, Kejaksaan terus menghadapi berbagai tuntutan, baik dari sisi organisasi, regulasi maupun harapan masyarakat terhadap penegakan hukum. Memasuki usia ke-81 tahun, pembenahan dan peningkatan kualitas pelayanan menjadi bagian penting dalam perjalanan institusi tersebut.
Karena itu, menurut Djamaluddin, peringatan Hari Lahir Kejaksaan hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan introspeksi terhadap pelaksanaan tugas.
“Yang paling penting adalah bagaimana semangat para pendahulu itu kita lanjutkan. Penegakan hukum harus tetap berjalan, tetapi dilakukan dengan mengedepankan integritas, profesionalitas dan pendekatan yang humanis kepada masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan sederhana yang diisi dengan ceramah serta rangkaian kegiatan sosial yang telah dilakukan sebelumnya menjadi bentuk nyata bahwa peringatan hari lahir sebuah institusi tidak harus selalu dilaksanakan secara meriah.
Menurutnya, yang lebih penting adalah bagaimana semangat pengabdian terus dipertahankan dan diwujudkan melalui pelaksanaan tugas sehari-hari.
Memasuki usia ke-81, Kejaksaan RI diharapkan semakin mampu memperkuat kepercayaan masyarakat melalui penegakan hukum yang profesional, berintegritas, berkeadilan serta tetap mengedepankan pendekatan humanis.
“Semoga semangat pengabdian itu terus kita jaga dan Kejaksaan semakin dipercaya masyarakat,” pungkas Kajari Bukittinggi.***
Pewarta : sutan mudo


Komentar0