Agam, MataJurnalist.com_Perkumpulan masyarakat yang tergabung dalam Forum Peduli Canduang Koto Laweh (FPCKL) menyoroti pelaksanaan proyek pembangunan Sabo Dam di Batang (Sungai) Jabua, Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam.
Proyek yang ditujukan sebagai salah satu upaya mitigasi bencana, khususnya untuk mengantisipasi potensi banjir bandang dan longsor dari kawasan hulu Gunung Marapi tersebut mendapat perhatian masyarakat. Warga berharap pembangunan infrastruktur pengendali aliran material tersebut dilaksanakan secara maksimal, mengingat dampaknya berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran Batang Jabua.
Perwakilan FPCKL, Budi Anda, mengatakan pihaknya melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan proyek, termasuk metode pembetonan yang digunakan di lapangan.
"Berdasarkan informasi dan data yang kami terima, proses pembetonan di proyek Sabo Dam mempergunakan beton ready mixed. Namun, sesuai hasil pantauan kami di lapangan, pihak kontraktor pelaksana melaksanakan proses pembetonan dengan sistem site mixed," kata Budi Anda, Senin (10/8/2026).
Menurut Budi, masyarakat membutuhkan penjelasan mengenai perubahan atau penggunaan metode tersebut karena dikhawatirkan dapat berpengaruh terhadap mutu beton yang digunakan dalam pembangunan Sabo Dam.
"Hal ini pernah kami pertanyakan secara langsung kepada pihak kontraktor. Mereka menyampaikan penggantian sistem adukan beton dikarenakan kondisi medan yang tidak bisa dilalui oleh mobil molen ready mixed," ujarnya.
Namun, Budi menilai alasan tersebut masih perlu mendapatkan penjelasan lebih lanjut. Berdasarkan hasil pemantauan FPCKL, kata dia, kondisi akses menuju lokasi proyek dinilai masih memungkinkan untuk dilalui kendaraan pengangkut beton dengan kapasitas tertentu.
"Sesuai pantauan kami di lapangan, kondisi medan masih dapat dilalui oleh mobil molen ready mixed, minimal dengan kapasitas sekitar 3 meter kubik," katanya.
Selain metode pembetonan, FPCKL juga menyoroti pelaksanaan sejumlah item pekerjaan lainnya. Salah satunya adalah pekerjaan pengecoran jalan inspeksi yang disebut belum dilaksanakan oleh kontraktor.
"Di dalam item pekerjaan terdapat salah satu item, yaitu pengecoran jalan inspeksi. Namun, pihak kontraktor sampai saat ini belum melaksanakan item pekerjaan tersebut," ujar Budi.
Atas sejumlah hal yang menjadi perhatian tersebut, FPCKL mengaku telah menyampaikan surat secara tertulis kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V. Surat tersebut juga ditembuskan kepada Pemerintah Kabupaten Agam, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, konsultan pengawas, serta Kuasa KSO PT Subur Berkah selaku pelaksana proyek.
FPCKL berharap pihak terkait dapat memberikan penjelasan dan melakukan pengawasan secara menyeluruh terhadap pelaksanaan proyek, terutama menyangkut kualitas pekerjaan dan kesesuaian antara pelaksanaan di lapangan dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.
Sementara itu, pihak kontraktor saat di wawancarai awak media di lokasi, memastikan seluruh pekerjaan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan spesifikasi teknis proyek.
Penanggung jawab kualitas Konsultan KSO PT Subur Berkah, Legino, menjelaskan bahwa penggunaan metode ready mixed maupun site mixed diperbolehkan dalam pelaksanaan pekerjaan, sepanjang memenuhi persyaratan teknis dan standar mutu yang ditetapkan.
"Proyek ini menggunakan metode site mixed, di mana material seperti pasir, kerikil, semen, dan air dicampur serta diolah langsung di lokasi proyek sebelum dituangkan," kata Legino.
Ia memastikan penggunaan metode site mixed tidak serta-merta membuat mutu beton menjadi lebih rendah. Menurutnya, kualitas beton tetap dikontrol melalui prosedur pengujian yang dilakukan selama proses pekerjaan.
"Mutu beton yang dihasilkan tetap dijaga dan harus sesuai standar. Proyek ini menggunakan mutu beton K-225," ujarnya.
Legino menjelaskan, sebelum proses pengecoran dilakukan, pihak proyek secara rutin mengambil sampel beton berbentuk silinder untuk kemudian dilakukan pengujian. Pengujian tersebut dilakukan di tiga tempat berbeda sebagai bagian dari upaya pengendalian mutu pekerjaan.
Menurutnya, proses pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan beton yang digunakan memenuhi persyaratan mutu sebagaimana ditetapkan dalam dokumen teknis proyek.
Sementara itu, Tenaga Ahli K3 Kontraktor PT Subur Berkah, Mashelrita, menjelaskan mengenai penggunaan material lokal di sekitar lokasi proyek.
Kemudian Iq juga mengatakan, material setempat seperti batu maupun pasir tidak dapat langsung digunakan tanpa melalui prosedur dan perizinan yang berlaku.
"Penggunaan material lokal harus melalui proses perizinan resmi terlebih dahulu. Karena pengurusan izin membutuhkan waktu yang cukup lama, pihak kontraktor sepenuhnya menggunakan material dari supplier berizin yang sah demi kelancaran dan legalitas proyek," katanya.
Pihak kontraktor juga memberikan penjelasan terkait akses masyarakat yang sebelumnya menjadi perhatian warga selama pelaksanaan pekerjaan.
Menurut pihak kontraktor, jalur utama masyarakat yang terdampak aktivitas proyek telah diperbaiki. Selain itu, kontraktor juga menyediakan jalan akses sementara di sekitar lokasi proyek untuk memastikan mobilitas masyarakat tetap dapat berlangsung selama pekerjaan pembangunan berjalan.
Dari sisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3), pihak kontraktor menyatakan penerapan standar keselamatan menjadi salah satu perhatian utama selama proyek berlangsung.
Mashelrita mengatakan, sejak pekerjaan dimulai pada Desember hingga saat ini, tidak terdapat insiden kecelakaan kerja di lokasi proyek.
"Sepanjang proyek berjalan dari bulan Desember hingga saat ini, belum pernah terjadi insiden kecelakaan kerja. Hal ini berkat penerapan standar operasional prosedur (SOP) keselamatan kerja yang terus kami jalankan," katanya.
Pihak kontraktor, konsultan pengawas, serta jajaran BWS Sumatera V, lanjutnya, berkomitmen menjaga kualitas pembangunan sekaligus memastikan aspek keselamatan kerja dan lingkungan sekitar tetap menjadi prioritas.
"Pihak kontraktor, konsultan pengawas, beserta jajaran BWS Sumatera V berkomitmen penuh untuk terus menjaga kualitas mutu bangunan serta keselamatan kerja demi menghindari dampak buruk bagi masyarakat sekitar," katanya.
Dengan adanya perbedaan pandangan antara masyarakat dan pelaksana proyek mengenai metode pengecoran tersebut, masyarakat berharap pengawasan dari instansi terkait dapat dilakukan secara transparan.
Hal itu dinilai penting agar pembangunan Sabo Dam Batang Jabua benar-benar memberikan manfaat optimal sebagai infrastruktur mitigasi bencana bagi masyarakat di kawasan Canduang Koto Laweh dan wilayah yang berada di sepanjang aliran sungai, pungkasnya.***
Pewarta : sutan mudo


Komentar0