Bukittinggi MataJurnalist.com_ Penulis dan sastrawan internasional asal Singapura, Bunda Rohani Din, yang akrab disapa Bunda Ani atau Bunda Din, kagumi Gerakan Literasi Rumah Literasi Ashpen Bukittinggi, hal ini disampaikan saat mengunjungi Rumah Literasi Ashpen Bukittinggi, Selasa (11/8). Kunjungan tersebut menjadi momentum istimewa bagi keluarga besar Ashpen dalam memperkuat jejaring, kolaborasi, serta gerakan literasi lintas negara.
Dalam kunjungannya, Bunda Ani didampingi sejumlah tokoh literasi, di antaranya Nanik Muis, Prof. Nur Endut, dan Lili Asnita.
Setibanya di Rumah Literasi Ashpen, Bunda Ani bersama rombongan disambut Founder Lembaga Ashpen sekaligus Ketua Yayasan Ansharullah Peduli Negeri, Zulfamiadi, Ketua Rumah Literasi Ashpen Trisno Edward, Ketua LAZ Ashpen Busjanadi, serta jajaran tim Ashpen, di antaranya Sri Wahyuni, Annisa, dan Rahmiyanti.
Menurut Bunda Ani, Rumah Literasi Ashpen tidak hanya bergerak pada aktivitas membaca dan menulis, tetapi juga mengembangkan literasi yang terintegrasi dengan pendidikan, kreativitas, pelatihan, hingga pemanfaatan media digital.
“Kami sangat bangga bisa datang ke Rumah Literasi Ashpen. Di sini kami melihat adanya pengembangan literasi yang disinergikan dengan bidang pendidikan. Bahkan, sudah ada ruang podcast yang sangat profesional. Ini merupakan kolaborasi yang bagus. Ada pelatihan, kreativitas, lomba, dan juga penerbitan karya di Rumah Literasi Ashpen ini,” ujar Bunda Ani atau Bunda Din kepada awak media.
Pernyataan tersebut diamini Nanik Muis dan Prof. Nur Endut yang turut mendampingi kunjungan Bunda Ani. Mereka menilai keberadaan Rumah Literasi Ashpen menjadi salah satu ruang penting bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengembangkan potensi melalui kegiatan literasi, pendidikan, seni, dan kreativitas.
Momen Penting bagi Sri Wahyuni, Administrasi Lembaga Ashpen, saat bertemu dengan Bunda Rohani Din, dari Singapura.Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Bunda Rohani Din juga didaulat menjadi narasumber Podcast “Sisi Lain Ashpen” yang dipandu langsung oleh Zulfamiadi.
Dalam podcast tersebut, berbagai hal seputar dunia literasi, kepenulisan, pendidikan, kreativitas, serta pengalaman dalam membangun gerakan literasi menjadi bagian dari perbincangan.
Kehadiran Bunda Ani di ruang podcast Rumah Literasi Ashpen sekaligus menunjukkan bagaimana literasi dapat dikembangkan melalui berbagai platform kreatif dan kekinian.
Usai mengikuti podcast, Bunda Ani memberikan motivasi dan semangat kepada Tim Rumah Literasi Ashpen agar terus berkarya dan tidak berhenti menulis.
Pada kesempatan itu, Ia juga mendorong para pegiat literasi untuk berani menghasilkan karya, membangun kolaborasi, serta menjadikan literasi sebagai gerakan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sementara itu, Founder Ashpen sekaligus Ketua Yayasan Ansharullah Peduli Negeri, Zulfamiadi, mengaku sangat bangga dan bersyukur atas kunjungan Bunda Ani dari Singapura bersama para tokoh literasi.
Zulfamiadi menyebut kedatangan Bunda Ani sebagai sebuah kejutan sekaligus kehormatan bagi keluarga besar Ashpen.
“Kunjungan Bunda Ani adalah surprise bagi kami di Rumah Literasi Ashpen. Saat kami diinformasikan oleh Ibu Lili Asnita bahwa Bunda Ani dari Singapura akan berkunjung ke Ashpen, kami langsung bersyukur dan menyambutnya dengan baik,” ungkap Zulfamiadi.
Zulfamiadi menjelaskan, Rumah Literasi Ashpen selama ini lebih mengedepankan berbagai kegiatan berbasis event, pelatihan, pendidikan, kreativitas, dan pengembangan potensi masyarakat.
Namun, menurutnya, gerakan literasi di Ashpen tidak berhenti pada kegiatan dan pelatihan saja. Ashpen juga mulai mendorong lahirnya karya-karya literasi dalam bentuk buku.
Salah satunya adalah peluncuran novel perdana berjudul “Bukan Kami Yang Menolong Mereka”, karya penulis muda Denia Yaya Auliya.
“Di lembaga Ashpen, kami mengutamakan kolaborasi, bersinergi dan menjadi jembatan kebaikan. Kami ingin Rumah Literasi Ashpen menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan, kreativitas, pendidikan dan karya,” terang Zulfamiadi didampingi Ketua Rumah Literasi Ashpen Trisno Edward dan Ketua LAZ Ashpen Busjanadi.
Menurut Zulfamiadi, kunjungan tokoh literasi dari Singapura tersebut semakin memperkuat semangat Ashpen untuk membuka jejaring dan kolaborasi yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Ia berharap, pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai kunjungan semata, tetapi dapat berkembang menjadi kerja sama konkret dalam pengembangan literasi, kepenulisan, pendidikan dan kreativitas.
Di penghujung kegiatan, Bunda Ani menyerahkan sejumlah buku kepada Rumah Literasi Ashpen. Penyerahan buku tersebut menjadi simbol dukungan terhadap keberadaan Rumah Literasi Ashpen sebagai ruang belajar dan berkarya bagi masyarakat.***
Pewarta : sutan mudo



Komentar0