GUO9GpGoBSrpBUW9TSG0TUApTA==

DLH Bukittinggi: Sampah Capai 80-100 Ton per Hari



Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Muda Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bukittinggi, Marwira Lizarni, saat memberikan edukasi tentang pengelolaan sampah kepada siswa SMK Genus, Jumat (14/8/2026) pagi di paparangan ngarai dalam giat Ekspedisi Hijau SMK Genus Bukittinggi.

Bukittinggi, MataJurnalist.com_Produksi sampah di Kota Bukittinggi mencapai sekitar 80 hingga 100 ton per hari. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius dalam upaya pengelolaan lingkungan, terutama untuk menekan jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan.

Hal itu disampaikan Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Muda Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bukittinggi, Marwira Lizarni, saat memberikan edukasi tentang pengelolaan sampah kepada siswa SMK Genus, Jumat (14/8/2026) pagi di paparangan ngarai dalam giat Ekspedisi Hijau SMK Genus Bukittinggi.

Marwira mengatakan, jika sampah yang dihasilkan mencapai 80 hingga 100 ton setiap hari dan biaya pengelolaannya sekitar Rp100 ribu per ton, maka nilai yang harus dikeluarkan dapat mencapai Rp8 juta hingga Rp10 juta per hari.

“Kalau 80 sampai 100 ton per hari, dengan biaya Rp100 ribu per ton, tentu bisa mencapai Rp8 juta hingga Rp10 juta dalam satu hari,” ujarnya di hadapan para siswa.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Ke depan, DLH Bukittinggi berupaya agar sebagian sampah, terutama sampah organik, dapat diolah terlebih dahulu sehingga tidak seluruhnya berakhir sebagai sampah yang harus dibuang.

“Sampah organik bisa kita olah menjadi pupuk organik, pupuk kompos, magot, maupun eco enzyme. Dengan begitu, sampah yang dihasilkan menjadi lebih sedikit dan biaya pengelolaannya juga bisa ditekan. Selain itu, sampah tersebut dapat memberikan manfaat,” jelasnya.

Marwira menegaskan, persoalan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun petugas kebersihan. Seluruh lapisan masyarakat harus ikut mengambil peran, mulai dari rumah tangga, sekolah, dunia usaha hingga lingkungan masyarakat.

“Di sini semuanya harus berperan. Sekuat kita harus berperan dalam pengelolaan sampah,” katanya.

Dalam kegiatan edukasi tersebut, Marwira tidak hanya menyampaikan materi secara teori, tetapi juga mengajak siswa untuk mengenali dan memilah jenis-jenis sampah melalui praktik secara langsung.

Para siswa diperkenalkan dengan tiga kelompok utama sampah, yakni sampah organik, nonorganik, serta B3 (bahan berbahaya dan beracun).

Sampah organik merupakan sampah yang mudah membusuk, seperti sisa makanan dan daun-daunan. Sementara sampah nonorganik merupakan sampah yang relatif sulit atau membutuhkan waktu lama untuk terurai, seperti plastik, botol dan berbagai kemasan.

Sedangkan sampah B3 merupakan jenis sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun sehingga membutuhkan penanganan khusus.

Lebih lanjut, Marwira mengajak para siswa untuk menerapkan prinsip 3R, yakni Reduce, Reuse, dan Recycle atau mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang.

Reduce dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan barang-barang sekali pakai. Salah satunya dengan membiasakan diri membawa tumbler atau tempat minum sendiri.

“Misalnya kita membawa tumbler, membawa tempat minum, membawa kotak bekal. Ini merupakan salah satu cara kita mengurangi sampah yang kita hasilkan,” tuturnya.

Siswa SMK Genus mendapat sosialisasi dari DLH Bukittinggi, terkait jenis sampah, Organik, Nonorganik, dan B3 

Selanjutnya, prinsip reuse dilakukan dengan menggunakan kembali barang yang masih layak digunakan. Sementara recycle dilakukan dengan mendaur ulang sampah sehingga dapat menjadi barang atau produk yang memiliki nilai guna.

Menurut Marwira, langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat dalam membantu pengelolaan sampah adalah memilah sampah sejak dari sumbernya.

“Tugas kita dalam membantu adalah memisahkan sampah organik dan nonorganik. Kalau sudah dipilah dari awal, pengelolaannya akan menjadi lebih mudah,” ujarnya.

Edukasi mengenai pengelolaan sampah yang diberikan kepada generasi muda dapat menumbuhkan kesadaran sejak dini. Para siswa diharapkan tidak hanya memahami jenis dan dampak sampah, tetapi juga mampu menerapkan kebiasaan memilah dan mengurangi sampah dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga ke depannya kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, semakin meningkat. Dengan pengelolaan sampah yang dilakukan bersama-sama, jumlah sampah yang dibuang dapat dikurangi dan lingkungan kita menjadi lebih bersih serta sehat,” pungkasnya.***

Pewarta : sutan mudo 



Komentar0

Type above and press Enter to search.